KALANAWAN
Karya
Rahmah
Safitri
“ Teng-teng-teng “
Bunyi lonceng sekolah terdengar
menandakan jam pelajaran terakhir telah selesai. Siswa-siswi SMA itu keluar
dari ruang kelasnya masing-masing. Udara panas dan matahari yang terasa
membakar kulit,membuat kebanyakan dari mereka mempercepat langkah untuk segera
pulang ke rumah masing-masing.
Aku membereskan buku-buku dan alat
tulisku ke dalam tas. “Aku harus lekas tiba di rumah,” gumamku dalam hati. Setelah
memakai jaket kesayanganku, sebuah jaket coklat yang merupakan kado ulang tahun
dari mama, aku perlahan melangkah keluar kelas. Aku baru beberapa langkah
berjalan di selasar kelas saat mendengar seseorang meneriakkan namaku.
“ Rahmah…Rahmah!” panggil seseorang,
aku menoleh ke belakang, seseorang berlari menuju ke arahku. Rambut lurus
berwarna hitam berkilau bagaikan model sebuah iklan shampo itu berkibar karena
berlari. Hentakan sepatu itu semakin dekat, dan kini orang itu berada di
hadapanku.
“ Kok nggak nungguin sih?” tanya gadis itu dengan mata setengah melotot
padaku. Gadis ini tidak lain adalah sahabatku yang bernama Septa.
“ Maaf deh,maaf… “ sahutku seraya
memasang tampang bersalah.
Kami akhirnya pulang bersama seperti
hari-hari sebelumnya.
“ Eh,mah. Mulai besok kita libur kan
? Kamu rencananya liburan kemana ? “ tanya Septa dengan wajah ingin tahu.
“ Iya,mulai besok kita libur sekolah.
Aku bakalan minta ijin sama mama dan papa untuk pergi ke rumah nenek. Aku
kangen banget sama nenek,“ jawabku.
“Oh.Salam ya buat nenek kamu…”
“Hmm…”
Saat aku sampai di rumah,aku segera
menemui mama yang sedang memasak di dapur. Aku ingin segera mengutarakan niatku
untuk berkunjung ke rumah nenek.
“ Ma,besok aku boleh liburan ke
tempat nenek nggak?” tanyaku pada mama yang tampaknya sedang asyik mengiris
bawang.
“ Sama siapa kamu kesana ? “ mama
balik bertanya padaku sambil sibuk membolak-balik ikan di penggorengan
kesayangannya.
“ Sendirian,Ma. Boleh ya,Ma ?”
“ Yakin bisa berangkat sendirian ?”
“ Bisa,Ma. Aku sudah besar. Lagipula
Kasongan kan dekat aja. Boleh ya,Ma ?”
“ Boleh. Tapi disana jangan keluar
malam-malam,” pesan Mama.
Tanpa menyahut,aku langsung beranjak
ke kamar.
Keesokan harinya…
“Kring…
!”
Bunyi
jam weker lagi-lagi membangunkanku dari tidur lelapku. Dengan malas aku
perlahan turun dari tempat tidur. Aku segera mematikan jam weker yang sedari
tadi menunggu untuk dimatikan. Aku melirik jam weker berbentuk kepala boneka
beruang itu. “Wah,sudah pukul tujuh lewat lima belas menit !” aku berseru
kaget. Aku langsung menyambar handuk dan menuju kamar mandi.
Selesai
mandi,aku langsung menghampiri mama,papa dan dua adik tersayangku yang sedari
tadi telah asyik duduk santai di ruang keluarga.
“Mah,travelnya
sebentar lagi datang. Kamu sudah menyiapkan baju dan kebutuhan kamu yang lain
kan ? “ Mama memulai pembicaraan.
“Ya,Ma.
Udah beres semuanya,” jawabku dengan penuh semangat.
Tidak lama kemudian…
“Titt…titt…tiiitt,”
suara klakson sebuah mobil dari depan rumah.
“Tuh,Mah.
Travelnya sudah datang. Ayo cepat ambil koper kamu! “
Aku segera beranjak dari tempat duduk
untuk mengambil koperku yang ada di dalam kamar.
“ Nak,ini untuk belanja kamu disana…”
ucap papaku sambil menyerahkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan padaku.
“Makasih,Pa..”
Sebelum berangkat aku mencium tangan
kedua orangtuaku itu,orangtua yang selalu memberikan limpahan kasih sayang
mereka untukku,orangtua yang selalu ada dalam setiap waktuku dan apapun
kondisiku,orangtua yang selalu jadi orang yang pertama yang kuhubungi saat aku
dalam bahaya. Aku juga tak lupa memeluk dua adikku tersayang,Fika dan Nisa,adik-adik
yang selalu menuruti apapun perintahku, adik-adik yang sangat aku sayangi. Dari dalam travel,aku
melihat mereka melepas kepergianku,maklumlah dari kecil aku hampir tak
pernah bepergian sendirian,meskipun
misalnya hanya ke pasar yang letaknya masih di dalam kota.
Perjalanan yang ditempuh terasa
sebentar karena jalanan yang menghubungkan Palangkaraya dan Kasongan sangat
bagus sehingga siapa saja yang melewati jalan itu menggunakan kendaraan
bermotor akan merasa nyaman dan baik-baik saja. Selain itu,bias melihat
pemandangan yang indah seperti Bukit Tangkiling dan Bukit Batu. Waktu yang
dibutuhkan dari Palangkaraya menuju Kasongan hanya membutuhkan waktu hampir
satu setengah jam saja.
Tidak lama kemudian,aku sampai di
tempat tujuan. Kasongan merupakan salahsatu ibukota kabupaten
pemekaran,bukanlah sebuah desa. Namun suasananya sedikit lebih tenang dibanding
kota Palangkaraya. Akhirnya travel itu berhenti tepat di sebuah rumah panggung.
Rumah kayu itu bercat biru,beratap sirap. Itu adalah rumah nenekku. Aku
bergegas turun dari travel. Aku sudah tak sabar ingin melihat wajah nenek yang
sudah lama tak ku temui. Nenekku adalah
seorang janda tua,kakekku sudah lama meninggal dunia saat aku masih berusia 5
tahun. Nenek mempunyai 9 orang anak yang semuanya telah berkeluarga,papaku
adalah anaknya yang ketujuh. Nenek sebenarnya sudah sangat tua,namun ia masih
terlihat sehat dan sangat pemberani. “Nenek pasti senang melihat kedatanganku,”
demikian pikirku.
“Tok..tok..tok…”
Aku mengetuk pintu yang terbuat dari
ulin,berukir burung tingang di hadapanku itu. Beberapa saat kemudian terdengar
langkah kaki seseorang dari dalam rumah. Lalu pintu itu dibuka..
“ Rahmah…” Nenek langsung
merangkulku. “Ayo masuk ke dalam. Bawa barang-barangmu,” kata nenek kemudian.
Aku mengikuti nenek masuk ke dalam rumah.
“Kamu tidur di kamar ini. Sudah nenek
bersihkan. Beristirahatlah,kamu pasti sangat lelah,” kata nenek padaku sambil
memasuki sebuah kamar yang selalu menjadi kamar kami jika aku dan orangtuaku
bertandang ke rumah nenek.
“Baik,Nek..” jawabku seraya memasuki
kamar itu.
Malam harinya…
Aku gelisah. Mataku tidak dapat
terpejam. Suara-suara burung hantu dan mungkin binatang liar lainnya yang ada
di dalam hutan yang berada tepat di belakang rumah nenek sangat menakutkan
bagiku. Sedari tadi aku hanya mendengarkan lagu-lagu dari handphone kepunyaanku,tapi sekarang baterainya telah habis. Aku
kembali dilanda ketakutan luar biasa. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur
bersama nenek di kamar sebelah.
“Rahmah tidak bisa tidur ? “ Nenek
bertanya padaku seraya mengusap rambutku.
“Ya,nek..”
“Bagaimana kalau kamu mendengarkan
cerita nenek saja? Seperti semasa kamu kecil dulu,”
“Baik,Nek.Aku mau mendengarkan cerita
nenek,” sahutku dengan cepat.
“Nenek kali ini akan bercerita
tentang asal mula Sungai Kalanawan dan Riam Buntat yang ada di daerah ini,”
Nenek memulai ceritanya.Aku mulai
mengkhayalkan diri sebagai Kala,tokoh perempuan yang ada di cerita itu.
“Di sebuah desa,tinggallah sepasang
suami-istri yang bernama Nawan dan Kala. Mereka hidup sangat rukun. Pada suatu
hari,saat pagi hari,Nawan berpamitan pada istrinya untuk berburu ke hutan…”
“Kala,aku pergi dahulu berburu ke
hutan. Kau jaga rumah saja dan jangan kemana-mana sampai aku pulang,” pesan
Nawan pada Kala,istrinya.
“Ya.Berhati-hatilah di hutan nanti..”
jawab Kala
“Tentu,aku akan berhati-hati.
Tapi,kau juga harus mendoakanku,” kata Nawan pada Kala
“Doaku akan selalu menyertaimu,”
sahut Kala cepat.
Sampai sore hari, Nawan belum juga
pulang. Sementara Kala ingin menonton acara Sangiang yang sedang diadakan di
kampong mereka. Sangiang adalah upacara memanggil roh-roh halus.
“Ah..biar saja Nawan. Nanti juga dia
pasti akan menyusulku,” demikian pikir Kala. Akhirnya Kala pergi menonton acara
Sangiang itu tanpa menunggu suaminya pulang.
Tidak lama setelah Kala pergi,Nawan
datang dari hutan. Ia membawa hasil buruan yaitu seekor monyet. Ia mencari
istrinya di dalam rumah,namun tidak ia temukan.
“Kemana ya perginya Kala? “ gumamnya
dalam hati. Sayup-sayup ia mendengar suara music tradisional Kalimantan Tengah
yaitu Gandang Garantung dari kejauhan. Lalu ia mendatangi tempat sumber bunyi
itu. Dilihatnya istrinya berada di tempat itu. Maka ia merasa marah karena
istrinya keluar rumah tanpa ijin darinya. Lalu ia pulang dan mengambil monyet
yang didapatnya dari berburu tadi. Monyet itu dihiasinya dan dipakaikannya
baju. Kemudian monyet yang telah dihiasnya itu dibawanya ke tempat orang
bersangiang tadi,lalu dilepasnya. Monyet itu menggantungkan diri di mayang
pinang untuk orang bersangiang tadi.
Karena tingkah monyet yang aneh
itu,tak lama kemudian turunlah hujan lebat disertai guntur dan petir. Melihat
cuaca yang seperti itu,Nawan membawa Kala pergi dari kampung itu.
“Kala,ayo kita pergi !” teriak Nawan
sambil menarik tangan Kala,istrinya.
“Kita kemana?” tanya Kala
“Kemana saja. Lihatlah cuaca ini
sangat menakutkan,”
Tetapi tanpa Kala dan Nawan
sadari,bekas kaki mereka berubah menjadi mata air. Mata air itu semakin
banyak,akhirnya menjadi sebuah sungai.
“Rahmah…” Nenek mencubit pipiku.
“Aww,sakit,Nek” gerutuku kesakitan
sambil memegangi pipiku. Aku tersadar dari khayalanku.
“Mau dengar akhir ceritanya ?” tanya
Nenek
“Rahmah akan sangat senang jika nenek
bersedia menceritakannya,” sahutku
Nenek pun menyambung ceritanya….
“Saat hujan lebat disertai guntur dan
petir yang dahsyat itu bekas kaki Kala dan Nawan itu akhirnya menjadi sungai yang dinamai Sungai Kalanawan
yang sekarang lebih dikenal dengan nama Sungai Kalanaman yang terletak di desa
Kereng Pangi Kabupaten katingan Hilir. Sedangkan Kala dan Nawan berubah menjadi
batu riam yang dinamai Riam Buntat,berada di desa Mirah, di hulu sungai
Kalanawan itu,” kata Nenek menutup ceritanya. “Suatu saat nenek akan mengajak
kamu melihat Sungai Kalanawan. Sekarang kamu tidur. Hari sudah larut malam,”
sambung nenek.
“Baik,Nek. Selamat malam..” jawabku.
“Malam…” sahut nenek seraya mengecup
keningku. Aku merasakan kasih sayangnya yang tak terhingga padaku.
Assalamualaikum mbak Rahmah mohon infonya apa memang ada sejarah tentang pangeran kalanawan didaerah nenek mbak...tlg diinfokan ya mbak ke email saya...sebelumnya terimakasih
BalasHapus