Minggu, 14 September 2014




KALANAWAN
Karya
Rahmah Safitri

“ Teng-teng-teng “
Bunyi lonceng sekolah terdengar menandakan jam pelajaran terakhir telah selesai. Siswa-siswi SMA itu keluar dari ruang kelasnya masing-masing. Udara panas dan matahari yang terasa membakar kulit,membuat kebanyakan dari mereka mempercepat langkah untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
Aku membereskan buku-buku dan alat tulisku ke dalam tas. “Aku harus lekas tiba di rumah,” gumamku dalam hati. Setelah memakai jaket kesayanganku, sebuah jaket coklat yang merupakan kado ulang tahun dari mama, aku perlahan melangkah keluar kelas. Aku baru beberapa langkah berjalan di selasar kelas saat mendengar seseorang meneriakkan namaku.
“ Rahmah…Rahmah!” panggil seseorang, aku menoleh ke belakang, seseorang berlari menuju ke arahku. Rambut lurus berwarna hitam berkilau bagaikan model sebuah iklan shampo itu berkibar karena berlari. Hentakan sepatu itu semakin dekat, dan kini orang itu berada di hadapanku.
“ Kok nggak nungguin sih?”  tanya gadis itu dengan mata setengah melotot padaku. Gadis ini tidak lain adalah sahabatku yang bernama Septa.
“ Maaf deh,maaf… “ sahutku seraya memasang tampang bersalah.
Kami akhirnya pulang bersama seperti hari-hari sebelumnya.
“ Eh,mah. Mulai besok kita libur kan ? Kamu rencananya liburan kemana ? “ tanya Septa dengan wajah  ingin tahu.
“ Iya,mulai besok kita libur sekolah. Aku bakalan minta ijin sama mama dan papa untuk pergi ke rumah nenek. Aku kangen banget sama nenek,“ jawabku.
“Oh.Salam ya buat nenek kamu…”
“Hmm…”
Saat aku sampai di rumah,aku segera menemui mama yang sedang memasak di dapur. Aku ingin segera mengutarakan niatku untuk berkunjung ke rumah nenek.
“ Ma,besok aku boleh liburan ke tempat nenek nggak?” tanyaku pada mama yang tampaknya sedang asyik mengiris bawang.
“ Sama siapa kamu kesana ? “ mama balik bertanya padaku sambil sibuk membolak-balik ikan di penggorengan kesayangannya.
“ Sendirian,Ma. Boleh ya,Ma ?”
“ Yakin bisa berangkat sendirian ?”
“ Bisa,Ma. Aku sudah besar. Lagipula Kasongan kan dekat aja. Boleh ya,Ma ?”
“ Boleh. Tapi disana jangan keluar malam-malam,” pesan Mama.
Tanpa menyahut,aku langsung beranjak ke kamar.

Keesokan harinya…
           “Kring… !”
           Bunyi jam weker lagi-lagi membangunkanku dari tidur lelapku. Dengan malas aku perlahan turun dari tempat tidur. Aku segera mematikan jam weker yang sedari tadi menunggu untuk dimatikan. Aku melirik jam weker berbentuk kepala boneka beruang itu. “Wah,sudah pukul tujuh lewat lima belas menit !” aku berseru kaget. Aku langsung menyambar handuk dan menuju kamar mandi.
           Selesai mandi,aku langsung menghampiri mama,papa dan dua adik tersayangku yang sedari tadi telah asyik duduk santai di ruang keluarga.
           “Mah,travelnya sebentar lagi datang. Kamu sudah menyiapkan baju dan kebutuhan kamu yang lain kan ? “ Mama memulai pembicaraan.
           “Ya,Ma. Udah beres semuanya,” jawabku dengan penuh semangat.
Tidak lama kemudian…
           “Titt…titt…tiiitt,” suara klakson sebuah mobil dari depan rumah.
           “Tuh,Mah. Travelnya sudah datang. Ayo cepat ambil koper kamu! “
Aku segera beranjak dari tempat duduk untuk mengambil koperku yang ada di dalam kamar.
“ Nak,ini untuk belanja kamu disana…” ucap papaku sambil menyerahkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan padaku.
“Makasih,Pa..”
Sebelum berangkat aku mencium tangan kedua orangtuaku itu,orangtua yang selalu memberikan limpahan kasih sayang mereka untukku,orangtua yang selalu ada dalam setiap waktuku dan apapun kondisiku,orangtua yang selalu jadi orang yang pertama yang kuhubungi saat aku dalam bahaya. Aku juga tak lupa memeluk dua adikku tersayang,Fika dan Nisa,adik-adik yang selalu menuruti apapun perintahku, adik-adik  yang sangat aku sayangi. Dari dalam travel,aku melihat mereka melepas kepergianku,maklumlah dari kecil aku hampir tak pernah  bepergian sendirian,meskipun misalnya hanya ke pasar yang letaknya masih di dalam kota.
Perjalanan yang ditempuh terasa sebentar karena jalanan yang menghubungkan Palangkaraya dan Kasongan sangat bagus sehingga siapa saja yang melewati jalan itu menggunakan kendaraan bermotor akan merasa nyaman dan baik-baik saja. Selain itu,bias melihat pemandangan yang indah seperti Bukit Tangkiling dan Bukit Batu. Waktu yang dibutuhkan dari Palangkaraya menuju Kasongan hanya membutuhkan waktu hampir satu setengah jam saja.
Tidak lama kemudian,aku sampai di tempat tujuan. Kasongan merupakan salahsatu ibukota kabupaten pemekaran,bukanlah sebuah desa. Namun suasananya sedikit lebih tenang dibanding kota Palangkaraya. Akhirnya travel itu berhenti tepat di sebuah rumah panggung. Rumah kayu itu bercat biru,beratap sirap. Itu adalah rumah nenekku. Aku bergegas turun dari travel. Aku sudah tak sabar ingin melihat wajah nenek yang sudah lama tak ku temui.  Nenekku adalah seorang janda tua,kakekku sudah lama meninggal dunia saat aku masih berusia 5 tahun. Nenek mempunyai 9 orang anak yang semuanya telah berkeluarga,papaku adalah anaknya yang ketujuh. Nenek sebenarnya sudah sangat tua,namun ia masih terlihat sehat dan sangat pemberani. “Nenek pasti senang melihat kedatanganku,” demikian pikirku.
“Tok..tok..tok…”
Aku mengetuk pintu yang terbuat dari ulin,berukir burung tingang di hadapanku itu. Beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki seseorang dari dalam rumah. Lalu pintu itu dibuka..
“ Rahmah…” Nenek langsung merangkulku. “Ayo masuk ke dalam. Bawa barang-barangmu,” kata nenek kemudian. Aku mengikuti nenek masuk ke dalam rumah.
“Kamu tidur di kamar ini. Sudah nenek bersihkan. Beristirahatlah,kamu pasti sangat lelah,” kata nenek padaku sambil memasuki sebuah kamar yang selalu menjadi kamar kami jika aku dan orangtuaku bertandang ke rumah nenek.
“Baik,Nek..” jawabku seraya memasuki kamar itu.
Malam harinya…
Aku gelisah. Mataku tidak dapat terpejam. Suara-suara burung hantu dan mungkin binatang liar lainnya yang ada di dalam hutan yang berada tepat di belakang rumah nenek sangat menakutkan bagiku. Sedari tadi aku hanya mendengarkan lagu-lagu dari handphone kepunyaanku,tapi sekarang baterainya telah habis. Aku kembali dilanda ketakutan luar biasa. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur bersama nenek di kamar sebelah.
“Rahmah tidak bisa tidur ? “ Nenek bertanya padaku seraya mengusap rambutku.
“Ya,nek..”
“Bagaimana kalau kamu mendengarkan cerita nenek saja? Seperti semasa kamu kecil dulu,”
“Baik,Nek.Aku mau mendengarkan cerita nenek,” sahutku dengan cepat.
“Nenek kali ini akan bercerita tentang asal mula Sungai Kalanawan dan Riam Buntat yang ada di daerah ini,”
Nenek memulai ceritanya.Aku mulai mengkhayalkan diri sebagai Kala,tokoh perempuan yang ada di cerita itu.
“Di sebuah desa,tinggallah sepasang suami-istri yang bernama Nawan dan Kala. Mereka hidup sangat rukun. Pada suatu hari,saat pagi hari,Nawan berpamitan pada istrinya untuk berburu ke hutan…”
“Kala,aku pergi dahulu berburu ke hutan. Kau jaga rumah saja dan jangan kemana-mana sampai aku pulang,” pesan Nawan pada Kala,istrinya.
“Ya.Berhati-hatilah di hutan nanti..” jawab Kala
“Tentu,aku akan berhati-hati. Tapi,kau juga harus mendoakanku,” kata Nawan pada Kala
“Doaku akan selalu menyertaimu,” sahut Kala cepat.
Sampai sore hari, Nawan belum juga pulang. Sementara Kala ingin menonton acara Sangiang yang sedang diadakan di kampong mereka. Sangiang adalah upacara memanggil roh-roh halus.
“Ah..biar saja Nawan. Nanti juga dia pasti akan menyusulku,” demikian pikir Kala. Akhirnya Kala pergi menonton acara Sangiang itu tanpa menunggu suaminya pulang.
Tidak lama setelah Kala pergi,Nawan datang dari hutan. Ia membawa hasil buruan yaitu seekor monyet. Ia mencari istrinya di dalam rumah,namun tidak ia temukan.
“Kemana ya perginya Kala? “ gumamnya dalam hati. Sayup-sayup ia mendengar suara music tradisional Kalimantan Tengah yaitu Gandang Garantung dari kejauhan. Lalu ia mendatangi tempat sumber bunyi itu. Dilihatnya istrinya berada di tempat itu. Maka ia merasa marah karena istrinya keluar rumah tanpa ijin darinya. Lalu ia pulang dan mengambil monyet yang didapatnya dari berburu tadi. Monyet itu dihiasinya dan dipakaikannya baju. Kemudian monyet yang telah dihiasnya itu dibawanya ke tempat orang bersangiang tadi,lalu dilepasnya. Monyet itu menggantungkan diri di mayang pinang untuk orang bersangiang tadi.
Karena tingkah monyet yang aneh itu,tak lama kemudian turunlah hujan lebat disertai guntur dan petir. Melihat cuaca yang seperti itu,Nawan membawa Kala pergi dari kampung itu.
“Kala,ayo kita pergi !” teriak Nawan sambil menarik tangan Kala,istrinya.
“Kita kemana?” tanya Kala
“Kemana saja. Lihatlah cuaca ini sangat menakutkan,”
Tetapi tanpa Kala dan Nawan sadari,bekas kaki mereka berubah menjadi mata air. Mata air itu semakin banyak,akhirnya menjadi sebuah sungai.
“Rahmah…” Nenek mencubit pipiku.
“Aww,sakit,Nek” gerutuku kesakitan sambil memegangi pipiku. Aku tersadar dari khayalanku.
“Mau dengar akhir ceritanya ?” tanya Nenek
“Rahmah akan sangat senang jika nenek bersedia menceritakannya,” sahutku
Nenek pun menyambung ceritanya….
“Saat hujan lebat disertai guntur dan petir yang dahsyat itu bekas kaki Kala dan Nawan itu akhirnya  menjadi sungai yang dinamai Sungai Kalanawan yang sekarang lebih dikenal dengan nama Sungai Kalanaman yang terletak di desa Kereng Pangi Kabupaten katingan Hilir. Sedangkan Kala dan Nawan berubah menjadi batu riam yang dinamai Riam Buntat,berada di desa Mirah, di hulu sungai Kalanawan itu,” kata Nenek menutup ceritanya. “Suatu saat nenek akan mengajak kamu melihat Sungai Kalanawan. Sekarang kamu tidur. Hari sudah larut malam,” sambung nenek.
“Baik,Nek. Selamat malam..” jawabku.
“Malam…” sahut nenek seraya mengecup keningku. Aku merasakan kasih sayangnya yang tak terhingga padaku.

1 komentar:

  1. Assalamualaikum mbak Rahmah mohon infonya apa memang ada sejarah tentang pangeran kalanawan didaerah nenek mbak...tlg diinfokan ya mbak ke email saya...sebelumnya terimakasih

    BalasHapus